April 13th, 2014
there is nothing wrong of being atheist, gay or believe that the universe was created by an invisible giant spaghetti monster. what’s wrong is not being a human to another human being!
#saynotodiscrimination
April 8th, 2014
Saat ketidaktahuan memberimu kenyamanan dan pengetahuan memberimu keraguan, masihkah kamu ingin belajar?
the things i do for the things i doubt.
March 23rd, 2014

Satu Koma Enam Satu Delapan

Begini awal mulanya…

Di suatu petang di bulan November, di tengah perjalanan panjang trans-liberia yang tengah saya tempuh, rombongan kami berhenti sejenak di sebuah desa bernama Lombe. Kala itu kami berniat melewatkan sebuah pekan di pulau Tiwai, sebuah pulau besar di tengah-tengah sungai Moa yang melintasi Sierra Leone, Liberia dan berakhir di delta niger – Nigeria.

Pulau Tiwai menjadi salah satu dari sedikit destinasi alam liar yang dapat dijangkau dengan jalan darat dari kota tempat saya bermungkim. Sejak dahulu, Tiwai telah dikenal sebagai daerah suaka bagi primata. Pulau yang luasnya tak lebih dari dua lapangan bola menjadi rumah bagi sebelas jenis primata dan great apes. Peneliti eropa sejak awal tahun 50an menasbihkannya menjadi salah satu daerah dengan kekayaan primata terbesar di dunia.

Tiwai menjadi rumah bagi  monyet Diana yang langka, menjadi ekosistem alami bagi monyet Kolobus Merah beserta koloninya dan juga tempat persembunyian Chimpanzee Hitam Afrika yang semakin sulit ditemui.

Saya menyebut Tiwai sebagai daerah suaka, tempat perlindungan bagi primata yang terancam punah, sungai Moa yang lebar serta buaya-buaya Nigeria yang mendiaminya menjadi pelindung alami para primata dari pemangsa utama mereka; Manusia.

Sejak dahulu di tanah ini primata diburu, dibakar hingga hangus tak berbulu, kemudian dikuliti satu persatu sebelum dagingnya dimasukkan ke dalam periuk-periuk tanah dan disajikan hampir tiap malam. Hingga kini tak banyak yang berubah, tiap hari dari sisi jalan yang saya lewati menuju rumah sakit tempat saya bekerja, pandangan saya berserobok dengan tumpukan monyet mati yang digantung berjejeran sembari menanti pembeli datang memilih.

Lambat laun primata di negeri ini mulai menghilang, akibat punah dimangsa atau bermigrasi karena terpaksa? Saya sendiri tak tahu.

Tiwai kemudian menjadi satu-satunya tempat yang saya ketahui dimana primata ini dapat berloncatan bebas dari satu pohon ke pohon yang lainnya tanpa perlu khawatir diberondong timah panas para pemburu.

Tapi petang itu di desa Lombe, seorang peneliti muda dari Austria yang saya temui bercerita tentang Tacugama, satu lagi daerah suaka di negeri ini yang khusus menampung Chimpanzee Hitam Afrika, sebuah suaka khusus yang didirikan pasangan suami istri asal Srilanka sejak tahun 1995 hingga kini dan bahkan tak tergerus oleh perang saudara.

Singkat cerita, perjalanan ke Tiwai membuka mata saya tentang buasnya manusia. Saya ingin mengunjungi Tacugama untuk melengkapi seri pengalaman saya. Sebuah hari saya tetapkan, satu tanggal di masa depan sebelum saya meninggalkan tanah ini.

Tapi rencana tak selalu berjalan sempurna, kadang ia meregang jauh melampaui masa yang kita ancangkan, terkadang pula ia mengkerut dan datang lebih awal.

Seperti kali ini, saya mengunjungi Tacugama kemarin pagi!

***

Begini Ceritanya….

Read More

March 8th, 2014

Aljabar menjabarkan kepastian, seperti sahihnya satu ditambah satu adalah dua dan sahihnya deret fibonacci yang tak akan pernah menemui bilangan terakhirnya.
Aljabar berbanding terbalik dengan hati manusia yang kadarnya akan selalu berbeda tergantung siapa dan apa pembandingnya. Kita senantiasa meragu akan rumusan perasaan, salah satunya saat merumuskan pasangan yang tepat.
Tapi seorang karib saya pernah berkata, bahwa hati manusia tak ubahnya sebuah rumusan aljabar yang memiliki nilai pasti.
“Dia yang tepat adalah dia yang menjadi tempat kamu bisa menjadi kamu yang sebenarnya dan menerima kamu apa adanya…”

Dan mungkin sekarang satu-satunya yang saya butuhkan adalah; berhitung…

sebuah nukilan dari janin buku yang tengah saya tulis. jangan tanya saya kapan rampungnya, mungkin besok atau mungkin lusa atau mungkin sedikit lebih lama…
February 26th, 2014
Seandainya saja rasa senang dan bahagia bekerja layaknya virus paling mematikan di dunia. Saya berkenan terjangkiti dan tak segan menularkan.
Karena rasanya tak ada yang lebih membahagiakan dibanding membahagiakan orang lain.
Me; Who physically exhausted but psychologically delight.
Tiap-tiap manusia berkisah dengan inderanya pun dengan lakunya. Tiap-tiap dari kita adalah sebuah buku yang terbuka dan dapat dibaca oleh siapa saja yang dapat menerjemahkan aksara tak tertulis. Manusia menorehkan cerita hidup dalam ruang bidang yang beragam, seperti kota ini serta misteri pagi yang disembulkannya setiap hari.

Kabut bergulir dari puncak-puncak bukit yang memagar peninsula jauh sebelum matahari terbit, bertingkat-tingkat layaknya gulungan ombak kemudian meluruh hilang saat menyentuh pesisir-pesisir pantai yang mengecup pinggir samudera Atlantis, sebuah pertujukan alam maha megah yang ditampilkan setiap pagi. 

Sepuluh tahun yang lalu, saya tak akan mampu berdiri disini sembari memandang kota, karena sebutir peluru akan dengan mudah terbenam di batok kepala saya. Saya akan menjadi salah satu dari ratusan ribu manusia tanpa nama yang hanya terekam sebagai bagian sejarah dari salah satu perang saudara terburuk di benua Afrika.

Perang tak pernah mengenal kata belas kasihan dan toleransi, ia layaknya sebatang besi panas yang melelehkan tiap balok es yang disentuhnya hingga tak menyisakan satu pun atom yang mewujud benda ataupun layaknya titik yang menamatkan tiap cerita, tanpa menyisakan satu pun kata sesudahnya. 

Kini tak jarang perjalanan hidup saya bersinggungan arah dengan perang ataupun menyisir bekas-bekas langkahnya, bukan hal yang menarik kalau boleh saya berkata. Tapi dari situ saya pun belajar bahwa perjalanan tak melulu soal perjalanan, ia tak selalu mengenai tempat ataupun jarak. Perjalanan terkadang hanya mengenai proses jalan itu sendiri, tentang langkah yang kita ayun dan bentang masa yang kita lewati. 

Dan kini saya hanya dapat bersyukur mampu berdiri di lini-masa yang berbeda dengan perang di tanah ini, menikmati langkah yang saya ayun dan setidaknya tak perlu mengkhawatirkan sebutir pun peluru yang sewaktu-waktu dapat menamatkan kisah saya sebelum kabut kota ini bergulir dan sirna. 

Freetown – Sierra Leone, 9th February 2014 [06:06am]

Tiap-tiap manusia berkisah dengan inderanya pun dengan lakunya. Tiap-tiap dari kita adalah sebuah buku yang terbuka dan dapat dibaca oleh siapa saja yang dapat menerjemahkan aksara tak tertulis. Manusia menorehkan cerita hidup dalam ruang bidang yang beragam, seperti kota ini serta misteri pagi yang disembulkannya setiap hari.

Kabut bergulir dari puncak-puncak bukit yang memagar peninsula jauh sebelum matahari terbit, bertingkat-tingkat layaknya gulungan ombak kemudian meluruh hilang saat menyentuh pesisir-pesisir pantai yang mengecup pinggir samudera Atlantis, sebuah pertujukan alam maha megah yang ditampilkan setiap pagi.

Sepuluh tahun yang lalu, saya tak akan mampu berdiri disini sembari memandang kota, karena sebutir peluru akan dengan mudah terbenam di batok kepala saya. Saya akan menjadi salah satu dari ratusan ribu manusia tanpa nama yang hanya terekam sebagai bagian sejarah dari salah satu perang saudara terburuk di benua Afrika.

Perang tak pernah mengenal kata belas kasihan dan toleransi, ia layaknya sebatang besi panas yang melelehkan tiap balok es yang disentuhnya hingga tak menyisakan satu pun atom yang mewujud benda ataupun layaknya titik yang menamatkan tiap cerita, tanpa menyisakan satu pun kata sesudahnya.

Kini tak jarang perjalanan hidup saya bersinggungan arah dengan perang ataupun menyisir bekas-bekas langkahnya, bukan hal yang menarik kalau boleh saya berkata. Tapi dari situ saya pun belajar bahwa perjalanan tak melulu soal perjalanan, ia tak selalu mengenai tempat ataupun jarak. Perjalanan terkadang hanya mengenai proses jalan itu sendiri, tentang langkah yang kita ayun dan bentang masa yang kita lewati.

Dan kini saya hanya dapat bersyukur mampu berdiri di lini-masa yang berbeda dengan perang di tanah ini, menikmati langkah yang saya ayun dan setidaknya tak perlu mengkhawatirkan sebutir pun peluru yang sewaktu-waktu dapat menamatkan kisah saya sebelum kabut kota ini bergulir dan sirna.

Freetown – Sierra Leone, 9th February 2014 [06:06am]