April 26th, 2013
Hidup banyak bercerita tentang hal-hal yang indah. Tentang harapan yang menang melawan kemustahilan, cinta yang menang melawan ego dan benci, atau si miskin yang menang melawan tirani konglomerat. Bahkan kitab suci turut bercerita tentang si kecil Daud yang menang melawan sang raksasa Jalut.
Tetapi sayang beberapa kisah dalam hidup ini, saya adalah sang raksasa…
***
Doro Refugee Camp, 4 April 2013 [10:23pm]
Ini sudah malam ke empatnya, tak ada yang berbeda. Dia masih tetap terbaring bisu di tenda isolasi. Terakhir saya mengunjungi beberapa jam yang lalu, memastikan gula darahnya tetap dalam batas yang normal sebelum akhirnya berlalu pergi dengan peluh yang membanjir. Sungguh tempat ini jauh dari kata nyaman, suhu Sudan selatan tak pernah bersahabat bahkan saat malam. 
Tenda isolasi bukanlah tempat favorit semua orang, sejak wabah hepatitis E menyerang daerah ini, hidup yang sejatinya telah berat menjadi lebih berat lagi. Penyakit ini menjelma menjadi momok menakutkan bukan hanya bagi mereka yang awam tapi bagi kami yang bergelut dengannya tiap hari. Tak ada yang tahu, siapakah yang kelak terbaring disini. Hari ini mereka, esok lusa mungkin saja kami…
Dia dengan kulitnya yang hitam legam tampak cantik berbalut kain biru malam ini, matanya tertutup sempurna, napasnya memelan setiap saat saya mengamatinya. Tetapi ada seorang pria yang selalu setia di sana, mengusapi dahinya yang basah oleh keringat ataupun sekedar mengosongkan kantong urine-nya yang gelap karena air seni yang pekat. Pria itu hanya mampu duduk terpaku dengan tatapan kosong, malam yang bisu seakan ikut menenggelamkannya. Saya kadang satir bergumam, sulit membedakan siapa yang sebenarnya sedang koma. 
Ini sudah malam keempatnya terbaring tak sadarkan diri di dipan kayu nomor dua, empat malam pula saya telah menemaninya disini, mencoba menabur sekam di atas geram ketidak berdayaan. Menyadari tak ada lagi yang dapat saya lakukan selain mengamatinya melewatkan malam demi malam. Berharap secuil harapan muncul dari mana saja. 
Empat malam saya lewatkan untuk menyusuri kehidupannya, menapaki jejak kenangan tak bernama dan mencoba mengenalnya. Wanita itu bernama Hawa, usianya baru dua puluh satu tahun. Tulang rusuk pelengkap bagi seorang pria bernama Gabriel dan ibu dari seorang bocah perempuan bernama Lola. Dia bersama suami dan keluarganya keluar dari negerinya dan menyambung hidup di kamp pengungsian ini. 
Hawa, layaknya nama yang di ambil dari kitab-kitab suci agama samawi; manusia kedua yang dicipta sang Khalik untuk menemani Adam. Dia pun berperan seperti itu. Seorang wanita yang setia menemani suaminya kemana saja, melintas batas negeri, bergelung dalam selimut debu dan bermungkim di tanah tandus tanpa masa depan. Cinta baginya adalah kesetiaan menapak langkah demi langkah sebaris di belakang sang suami. Tapi empat malam sudah langkahnya terhenti, dia sekarang terbaring membisu sejak virus Hepatitis E menjangkiti tubuhnya, dan kini Gabriel yang setia mendampinginya disana. Sudah beberapa bulan kami berjuang memerangi wabah penyakit ini, berusaha percaya bahwa dibalik semua keterbatasan serta kecilnya kemampuan yang kami miliki, secercah harapan selalu ada. Karena walaupun penyakit ini telah merenggut banyak nyawa, tak sedikit pula yang berhasil sembuh sempurna.
***
Tengah malam lewat sudah, kondisinya tidak banyak berubah. 
Saya memasang alat pembaca denyut nadi di jarinya yang dingin. Melakukannya dengan cepat, sembari mencoba menepis pandangan Gabriel yang sedari tadi memperhatikan saya memeriksa kondisi istrinya. Tangannya bersila memeluk telapak tangan kanan Hawa, diusapnya jari sang wanita itu satu persatu. Mungkin mencoba memberi sedikit kehangatan? Atau mengirimkan sinyal-sinyal penyemangat kepada jiwa yang melemah? Saya tak tahu pasti, bertanya pun bukan sesuatu yang menarik untuk dilakukan saat ini.
“She’s still ok, let’s hope she can awake soon…” Sembari tersenyum, saya kembali mengulang kalimat yang entah sudah keberapa kali saya ucapkan kepada Gabriel. Walaupun saya tahu, dia yang tak mampu berbahasa Inggris tak sekalipun memahami artinya, tapi saya percaya setiap harapan adalah doa dan untuk itu bahasa bukanlah pemisah. 
Kembali lagi Gabriel melakukan hal yang sama, mengusap dahi Hawa yang basah oleh keringat, mengosongkan kantong urine yang kembali penuh, kemudian merapikan sudut-sudut kain biru yang menutupi tubuh istrinya, sembari sesekali menimang buah hati mereka yang tertidur nyenyak di pangkuannya.
“She’s strong…” Mary, rekan perawat yang menemani saya malam ini berujar. Saat menangkap basah saya yang tengah memperhatikan ironi kehangatan keluarga kecil itu.
“No, they are strong…” Saya menimpali. Dan kami berdua sepakat akan hal yang satu itu.
***
Lewat pukul dua, Mary membangunkan saya yang tanpa sadar tertidur di meja. Memberi tahu bahwa denyut nadi dan pernapasan Hawa tidak bisa terbaca. Saya berlari secepatnya ke tenda isolasi, berharap masih menemukan secuil kehidupan disana. Tangan saya meraih pergelangan tangan Hawa, tak ada getar halus denyut nadi yang dapat saya raba. Saya meletakkan stetoskop di dadanya, pun tak ada detak jantung yang dapat terdengar lagi. 
Sial! Saya tak bisa kehilangan wanita ini, anaknya masih kecil, suaminya masih membutuhkannya. 
Bergegas saya ingin melakukan tindakan bantuan hidup, menginstruksikan Mary untuk menyuntikkan Adrenalin. Tetapi Gabriel menghentikan tangan saya sebelum sempat melakukan apa-apa. Saya bergeming, memandang Hawa dan memandang Gabriel secara bergantian. Kemudian pria itu tersenyum, senyum pertama yang diperlihatkannya sejak kami berkenalan. “Khalas” Gabriel berujar tenang sembari mengelus wajah istrinya. Saya pun berhenti dan mundur perlahan.
 “Call it doc…” pelan Mary meminta. 
Saya terdiam. Sungguh saya benci melakukan hal ini.
“H, call it!” Sekali lagi Mary berujar, suaranya menegang.
“Time of death, 02:13am. 5 April 2013” saya berujar, mencoba menyatakannya dengan nada yang paling tenang.
Dan kami pun paham, malam-malam panjang ini berakhir sudah
*** 
Manusia sungguh mahluk yang unik, diciptakan dengan perasaan memiliki dan keinginan untuk saling melengkapi, tapi tak seorang pun dari kita yang dilahirkan dengan kemampuan bisa menerima kehilangan, -yang sayangnya- menjadi satu-satunya hal yang pasti dari beragam kompleksitas kehidupan. Beruntung kemudian diciptakanNya waktu, yang menjadi guru terbaik dan mengajarkan kita menghadapi perpisahan dengan cara yang berbeda. 
Malam ini tak ada tangis yang membuncah ataupun ratapan kesedihan, hanya ada sebuah haru kehangatan dari keluarga kecil yang melepas kepergian wanita mereka. Gabriel menyadarkan saya, bahwa jika suatu saat kehilangan sahih adanya, saat kita memiliki seseorang yang bersedia ada hingga saat itu tiba, sesungguhnya perpisahan tak lagi berarti apa-apa. 
Dan apabila kesahihan hidup itu berlaku universal, cinta yang berarti tulus menerima bukankah juga berarti tulus melepaskan?
***
Mary: Hey it’s your birthday right? | Me: Yes, indeed | Mary: Well, it’s might be not the good time, but happy birthday H… | Me: Thanks…
 

Hidup banyak bercerita tentang hal-hal yang indah. Tentang harapan yang menang melawan kemustahilan, cinta yang menang melawan ego dan benci, atau si miskin yang menang melawan tirani konglomerat. Bahkan kitab suci turut bercerita tentang si kecil Daud yang menang melawan sang raksasa Jalut.

Tetapi sayang beberapa kisah dalam hidup ini, saya adalah sang raksasa…

***

Doro Refugee Camp, 4 April 2013 [10:23pm]

Ini sudah malam ke empatnya, tak ada yang berbeda. Dia masih tetap terbaring bisu di tenda isolasi. Terakhir saya mengunjungi beberapa jam yang lalu, memastikan gula darahnya tetap dalam batas yang normal sebelum akhirnya berlalu pergi dengan peluh yang membanjir. Sungguh tempat ini jauh dari kata nyaman, suhu Sudan selatan tak pernah bersahabat bahkan saat malam.

Tenda isolasi bukanlah tempat favorit semua orang, sejak wabah hepatitis E menyerang daerah ini, hidup yang sejatinya telah berat menjadi lebih berat lagi. Penyakit ini menjelma menjadi momok menakutkan bukan hanya bagi mereka yang awam tapi bagi kami yang bergelut dengannya tiap hari. Tak ada yang tahu, siapakah yang kelak terbaring disini. Hari ini mereka, esok lusa mungkin saja kami…

Dia dengan kulitnya yang hitam legam tampak cantik berbalut kain biru malam ini, matanya tertutup sempurna, napasnya memelan setiap saat saya mengamatinya. Tetapi ada seorang pria yang selalu setia di sana, mengusapi dahinya yang basah oleh keringat ataupun sekedar mengosongkan kantong urine-nya yang gelap karena air seni yang pekat. Pria itu hanya mampu duduk terpaku dengan tatapan kosong, malam yang bisu seakan ikut menenggelamkannya. Saya kadang satir bergumam, sulit membedakan siapa yang sebenarnya sedang koma.

Ini sudah malam keempatnya terbaring tak sadarkan diri di dipan kayu nomor dua, empat malam pula saya telah menemaninya disini, mencoba menabur sekam di atas geram ketidak berdayaan. Menyadari tak ada lagi yang dapat saya lakukan selain mengamatinya melewatkan malam demi malam. Berharap secuil harapan muncul dari mana saja.

Empat malam saya lewatkan untuk menyusuri kehidupannya, menapaki jejak kenangan tak bernama dan mencoba mengenalnya. Wanita itu bernama Hawa, usianya baru dua puluh satu tahun. Tulang rusuk pelengkap bagi seorang pria bernama Gabriel dan ibu dari seorang bocah perempuan bernama Lola. Dia bersama suami dan keluarganya keluar dari negerinya dan menyambung hidup di kamp pengungsian ini.

Hawa, layaknya nama yang di ambil dari kitab-kitab suci agama samawi; manusia kedua yang dicipta sang Khalik untuk menemani Adam. Dia pun berperan seperti itu. Seorang wanita yang setia menemani suaminya kemana saja, melintas batas negeri, bergelung dalam selimut debu dan bermungkim di tanah tandus tanpa masa depan. Cinta baginya adalah kesetiaan menapak langkah demi langkah sebaris di belakang sang suami. Tapi empat malam sudah langkahnya terhenti, dia sekarang terbaring membisu sejak virus Hepatitis E menjangkiti tubuhnya, dan kini Gabriel yang setia mendampinginya disana. Sudah beberapa bulan kami berjuang memerangi wabah penyakit ini, berusaha percaya bahwa dibalik semua keterbatasan serta kecilnya kemampuan yang kami miliki, secercah harapan selalu ada. Karena walaupun penyakit ini telah merenggut banyak nyawa, tak sedikit pula yang berhasil sembuh sempurna.

***

Tengah malam lewat sudah, kondisinya tidak banyak berubah.

Saya memasang alat pembaca denyut nadi di jarinya yang dingin. Melakukannya dengan cepat, sembari mencoba menepis pandangan Gabriel yang sedari tadi memperhatikan saya memeriksa kondisi istrinya. Tangannya bersila memeluk telapak tangan kanan Hawa, diusapnya jari sang wanita itu satu persatu. Mungkin mencoba memberi sedikit kehangatan? Atau mengirimkan sinyal-sinyal penyemangat kepada jiwa yang melemah? Saya tak tahu pasti, bertanya pun bukan sesuatu yang menarik untuk dilakukan saat ini.

“She’s still ok, let’s hope she can awake soon…” Sembari tersenyum, saya kembali mengulang kalimat yang entah sudah keberapa kali saya ucapkan kepada Gabriel. Walaupun saya tahu, dia yang tak mampu berbahasa Inggris tak sekalipun memahami artinya, tapi saya percaya setiap harapan adalah doa dan untuk itu bahasa bukanlah pemisah.

Kembali lagi Gabriel melakukan hal yang sama, mengusap dahi Hawa yang basah oleh keringat, mengosongkan kantong urine yang kembali penuh, kemudian merapikan sudut-sudut kain biru yang menutupi tubuh istrinya, sembari sesekali menimang buah hati mereka yang tertidur nyenyak di pangkuannya.

“She’s strong…” Mary, rekan perawat yang menemani saya malam ini berujar. Saat menangkap basah saya yang tengah memperhatikan ironi kehangatan keluarga kecil itu.

“No, they are strong…” Saya menimpali. Dan kami berdua sepakat akan hal yang satu itu.

***

Lewat pukul dua, Mary membangunkan saya yang tanpa sadar tertidur di meja. Memberi tahu bahwa denyut nadi dan pernapasan Hawa tidak bisa terbaca. Saya berlari secepatnya ke tenda isolasi, berharap masih menemukan secuil kehidupan disana. Tangan saya meraih pergelangan tangan Hawa, tak ada getar halus denyut nadi yang dapat saya raba. Saya meletakkan stetoskop di dadanya, pun tak ada detak jantung yang dapat terdengar lagi.

Sial! Saya tak bisa kehilangan wanita ini, anaknya masih kecil, suaminya masih membutuhkannya.

Bergegas saya ingin melakukan tindakan bantuan hidup, menginstruksikan Mary untuk menyuntikkan Adrenalin. Tetapi Gabriel menghentikan tangan saya sebelum sempat melakukan apa-apa. Saya bergeming, memandang Hawa dan memandang Gabriel secara bergantian. Kemudian pria itu tersenyum, senyum pertama yang diperlihatkannya sejak kami berkenalan. “Khalas” Gabriel berujar tenang sembari mengelus wajah istrinya. Saya pun berhenti dan mundur perlahan.

 “Call it doc…” pelan Mary meminta.

Saya terdiam. Sungguh saya benci melakukan hal ini.

“H, call it!” Sekali lagi Mary berujar, suaranya menegang.

“Time of death, 02:13am. 5 April 2013” saya berujar, mencoba menyatakannya dengan nada yang paling tenang.

Dan kami pun paham, malam-malam panjang ini berakhir sudah

*** 

Manusia sungguh mahluk yang unik, diciptakan dengan perasaan memiliki dan keinginan untuk saling melengkapi, tapi tak seorang pun dari kita yang dilahirkan dengan kemampuan bisa menerima kehilangan, -yang sayangnya- menjadi satu-satunya hal yang pasti dari beragam kompleksitas kehidupan. Beruntung kemudian diciptakanNya waktu, yang menjadi guru terbaik dan mengajarkan kita menghadapi perpisahan dengan cara yang berbeda.

Malam ini tak ada tangis yang membuncah ataupun ratapan kesedihan, hanya ada sebuah haru kehangatan dari keluarga kecil yang melepas kepergian wanita mereka. Gabriel menyadarkan saya, bahwa jika suatu saat kehilangan sahih adanya, saat kita memiliki seseorang yang bersedia ada hingga saat itu tiba, sesungguhnya perpisahan tak lagi berarti apa-apa.

Dan apabila kesahihan hidup itu berlaku universal, cinta yang berarti tulus menerima bukankah juga berarti tulus melepaskan?

***

Mary: Hey it’s your birthday right? | Me: Yes, indeed | Mary: Well, it’s might be not the good time, but happy birthday H… | Me: Thanks…

 

April 6th, 2013
dan seandainya kita ditakdirkan untuk tidak bersama, semoga Tuhan berkenan menyematkan waktu sedikit lebih lama, kemudian lebih lama dan lebih lama lagi…
@justHityou
April 1st, 2013
love is our laugh that linger after a burden anger
@justHityou
March 25th, 2013

Miracle Deforms…

                     image

Bagi saya, masa-masa menjadi mahasiswa adalah puncak selebrasi intelegensia. Belajar ilmu kedokteran layaknya merekam rumus-rumus eksakta dalam bentuk yang berbeda. Banyak yang berkata ilmu kedokteran itu adalah seni, bagi saya ilmu kedokteran layaknya sains murni. Melalui fisiologi saya belajar mekanisme kerja sebuah mesin maha rumit bernama manusia, mekanika kerjanya dan bagaimana kelak saya harus memperbaiki bagian yang rusak. Ada pula farmakologi yang mengajarkan saya tentang senyawa biokimia berupa rantai-rantai heksagon indah yang secara menakjubkan dapat berikatan dengan susunan molekul tubuh dan memberi efek yang menyembuhkan. Bagi saya, penyembuhan itu adalah sebuah bentuk kekakuan hukum; tanda-gejala memberi diagnosa dan berakhir dengan terapi.

Saya belajar bahwa penyakit muncul karena ketidakseimbangan dalam tubuh. Dan layaknya mesin, sekali kita memahami cara kerjanya maka tak ada hal lain yang tidak dapat dirasionalisasi. Obat pun demikian, aksi-reaksinya adalah ilmu yang dapat dijelaskan dalam berlembar-lembar kata, walaupun memahaminya tak pernah sederhana. Dalam  ilmu pasti tak ada bualan bernama keajaiban pun saya tak pernah belajar tentang itu. Tak ada jampi penyembuh ataupun sihir sakti yang dapat menjadi rantai heksagon layaknya senyawa kimia. Tetapi tak perduli sehebat apapun (kalaupun ini adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan) seorang dokter. Ada miliaran sel yang tak kasat dari pandangannya, ada berbagai kemungkinan yang dapat muncul dari sebuah diagnosis yang ditegakkannya, ada banyak lorong-lorong gelap dalam labirin otaknya dan banyak ruang kosong untuk penjelasan di luar nalar yang akhirnya berujung pada satu kesimpulan: Keajaiban, mungkin saja ada…

*** 

Doro Refugee Camp, 17 March 2013 [ 07:13pm]

Sungguh aneh rasanya, melihat jam bergulir ke arah kiri sedangkan matahari masih tinggi. Seandainya hal ini diibaratkan pertandingan tinju antara surya dan purnama, yang disebut kedua telah kalah telak dan menelan resiko kekalahan  untuk terbit belakangan. Jangan tanya mengapa, karena saya tidak mengetahui dengan pasti akan penjelasan geografis yang membuat negeri ini masih terang benderang di permulaan malam. Hari ini adalah debut pertama saya jaga malam di bangsal klinik. Karena klinik kami bekerja sepanjang hari, kami pun harus memilah waktu dan membagi hari menjadi beberapa bagian. Tiap-tiap dari kami akan mendapat jadwal bertugas di malam hari, melawan kodrat fisiologis dan tetap terjaga hingga sang candra kembali berlalu. Untuk itu, saya berkenan masih ditemani mentari yang tampak mengulur-ngulur waktu terbenamnya. Karena sungguh bagi saya, cahaya itu selalu menyemangati.

“Assalamu Alaikum…” saya menyapa para asisten perawat yang bertugas malam ini, dengan satu-satunya salam dalam bahasa arab yang saya ketahui.

Di kamp pengungsian ini walaupun mayoritas penduduknya menganut agama Kristen ataupun agama tradisional Afrika, bahasa Arab menjadi bahasa ibu yang digunakan sehari-hari. Lucu rasanya saat saya menyadari sebuah fakta unik, bahwa walaupun mereka fasih melafal kata tapi kebanyakan dari mereka tak dapat mengeja aksara arab sama sekali. Berkebalikan dengan mayoritas penganut agama Islam di Indonesia yang dapat mengeja susunan huruf hijaiyah tapi terkadang tak mengerti artinya. Sebenarnya malu saya berkata, tetapi saya pun termasuk salah satunya. Kemudian mana yang lebih penting? Saya sendiri belum dapat menyimpulkan.

Malam di tempat ini selalu dimulai dengan visitasi, mengecek kembali kondisi pasien kami satu persatu. Memastikan semua terapi telah diberikan dan tak ada keluhan menggelisahkan yang belum tersampaikan oleh mereka. Bangsal kami tidaklah besar; sebuah kontainer biru yang  memuat beberapa dipan yang kebanyakan dibuat dari kayu yang disambung dengan rajutan tali-temali. Ada satu kontainer yang menjadi bangsal umum, satunya lagi bagi pasien-pasien gawat darurat dan yang terakhir di khususkan bagi para anak kecil yang menderita malnutrisi.

“Everything is OK doctor, we admitted one kid this afternoon with severe malnutrition and diarrhea. But now he’s stable” Amron salah satu asisten perawat yang bertugas malam ini melaporkan saat kami melintas di bangsal malnutrisi. Saya memandang delapan dipan yang berjejer saling berhadapan, mata saya berkeliling mencari siapa nian penghuni baru ruangan ini. Saya mengenal semuanya, sehingga tidaklah sulit untuk mencari tahu sang penghuni baru. Kemudian pandangan saya terhenti di sudut ruangan, dipan bernomor tiga rupanya telah mempunyai tuannya. Saya mendekati mereka, seorang wanita tua dengan pakaian hijau lusuh dan kalung-kalung manik yang menggantung bebas di lehernya. Ada bayi kecil yang tertidur pulas di pangkuannya dengan sebuah selang menjulur keluar dari lubang hidung, dadanya kembang kempis bergantian dengan perutnya yang naik turun. Ada seorang anak kecil lain disana, perempuan, yang saya taksir berumur tak lebih dari tujuh tahun sedang sibuk mengipasi si bayi mungil. Saya mencoba menyapa mereka dalam bahasa arab, tapi hanya hening yang membalas. Mata mereka redup, mulut mereka terkunci.

Beberapa detik kami semua bergeming dalam diam sebelum sebait senyum mereka berikan…

Read More

March 20th, 2013



 



Doro Refugee Camp, 20 March 2013. [09:51pm]
“Sejauh apa mimpi bisa membawamu?”
Saya tak pernah menyangka bahwa hidup saya akan sedemikian dinamisnya, layaknya riak-riak sungai kecil di tepi hutan, yang kadang mengering saat kemarau dan penuh jeram saat musim penghujan tiba. Baru beberapa hari yang lalu saya menikmati sejuknya mesin pendingin, sembari menikmati segelas jus apel di salah satu restoran kegemaran saya di Makassar. Dan kini padang tandus nan luas sama sekali tak memberi ruang untuk saya berteduh dari sengatan surya negeri ini yang cadas, pun sebotol air untuk menghapus dahaga.
Sungguh, sebelum saya menapak negeri ini saya tak pernah mempercayai bahwa di sebuah sudut bumi ada tempat yang layaknya semesta yang paling terisolasi. Tempat kehidupan ditempa dengan sangat keras, dimana hidup adalah tentang hari esok, tentang udara yang masih dapat dihirup dalam selimut debu. 
Dan mimpi? Mimpi adalah perhiasan termahal yang dapat manusia kenakan…
***
Perang sipil yang berkepanjangan membelah Sudan menjadi dua bagian, sekali lagi agama yang semestinya menjadi pemersatu tak ayal menjadi pemecah. Dan hal itu membuat Sungai Nil yang agung kembali menambah nama deretan negeri yang dilintasinya; Republik Sudan Selatan. Negara termuda di dunia, rumah saya untuk setengah tahun ke depan. 
Sudan Selatan adalah bayi baru di benua Afrika, dia sama sekali buta akan pembangunan. Juba yang menjadi ibukota negara layaknya sebuah susunan lego yang dibangun dalam semalam. Tercengang saya melihat riuh dan gaya bandara internasional yang mirip pelelangan ikan, tersusun oleh bilik-bilik kayu dan ramai oleh pekik teriakan dimana-mana. Dinamis dan fluktuatifnya negara ini dapat dengan mudah terbaca. 
Sayang sekali, Juba yang berada di selatan dan berbatasan dengan Uganda hanyalah perhentian sementara bagi saya. Kehidupan saya di negara ini belum di mulai di terminal bandara. Pesawat membawa saya terbang ke titik paling atas negara ini, ke daerah perbatasan Sudan Selatan dan Utara. Saya sempat berfikir, manusia apa yang berkenan hidup di daerah perbatasan yang labil dan penuh konflik seperti itu? Dan di Doro saya menemukan jawabannya, mereka adalah para manusia yang terusir dari negerinya…
Saat pertama kali mendarat di Doro, saya tercengang memandang jejeran tenda-tenda pengungsian yang berdampingan dengan padang tandus nan gersang. Doro yang sejatinya daerah tak bertuan menjelma menjadi kota para manusia terusir. Di Doro udara panas menjadi teman paling setia, siang dan malam seakan tak ada bedanya, bahkan bulir keringat pun dapat menguap seketika.
Di tempat ini ada ribuan manusia yang menggantungkan hidupnya dari bantuan, tanpa pekerjaan, tanpa penghidupan, tanpa masa depan. Ada rasa sesak di dada saat saya melihat jejeran manusia yang kurus kering berbalut belulang memandang kosong ke arah mobil yang saya tumpangi dari pinggir jalan, bergeming  sesaat sebelum menghilang dibalik gumpalan debu yang memekat saat ban mobil bergulir menyapu jalan. 
Di Doro saya seakan lupa akan waktu, karena pekerjaan saya terbebas dari dikotomi siang dan malam. Pasien dapat datang kapan saja dan oleh karena itu kami harus senantiasa siap siaga, tak ada nyawa yang dapat menunggu kami untuk sekedar merapikan diri.
Saat malam yang tenang, saya dapat berkumpul dengan rekan-rekan saya di bawah pohon akasia kegemaran kami. Berceloteh ringan ataupun menertawakan hari yang tampaknya tak pernah memainkan peran protagonis. Dari meja tempat kami biasa menikmati makan malam bersama, saya dapat berkeliling dunia melalui pengalaman mereka. Sebotol air dingin dan gelak tawa mereka adalah cara terbaik untuk menutup hari.
***
Sudah setahun lamanya saya menggantungkan jas putih kebanggaan para dokter dan kini hanya mengenakan tak lebih dari kaos putih usang ataupun rompi yang berwarna kecoklatan akibat debu. Bangsal tempat saya bekerja pun hanyalah sebuah kontainer besi yang dikelilingi tenda-tenda plastik dengan beberapa dipan kayu di dalamnya. Di tempat ini, senyum hangat dan ucapan terima kasih adalah bayaran tertinggi yang dapat saya terima dari seorang pasien.
Apakah ini yang saya impikan? Tentu bukan. Hidup di zona konflik dan bekerja di daerah pengungsian tak pernah terpikirkan sebelumnya. Tapi seandainya saya ditanya, apa saya bahagia? Saya dengan bulat akan berkata iya!
Di tempat ini saya belajar menghargai hidup lebih baik lagi, untuk tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan. Untuk berterima kasih atas segala kebahagiaan kecil yang sering luput saya syukuri. Untuk kesempatan melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda dan bersinggungan dengan banyak manusia yang mencerahkan. Serta untuk sekali lagi mengingatkan diri, bahwa kita manusia sejatinya diciptakan untuk saling berbagi. Bukan untuk berdiam diri…
 
Dan apabila saya ditanya, sejauh apa mimpi bisa membawa saya? Saya akan menjawab; Lebih jauh dari mimpi yang pernah saya cipta…
 
Salam

Doro Refugee Camp, 20 March 2013. [09:51pm]

Sejauh apa mimpi bisa membawamu?”

Saya tak pernah menyangka bahwa hidup saya akan sedemikian dinamisnya, layaknya riak-riak sungai kecil di tepi hutan, yang kadang mengering saat kemarau dan penuh jeram saat musim penghujan tiba. Baru beberapa hari yang lalu saya menikmati sejuknya mesin pendingin, sembari menikmati segelas jus apel di salah satu restoran kegemaran saya di Makassar. Dan kini padang tandus nan luas sama sekali tak memberi ruang untuk saya berteduh dari sengatan surya negeri ini yang cadas, pun sebotol air untuk menghapus dahaga.

Sungguh, sebelum saya menapak negeri ini saya tak pernah mempercayai bahwa di sebuah sudut bumi ada tempat yang layaknya semesta yang paling terisolasi. Tempat kehidupan ditempa dengan sangat keras, dimana hidup adalah tentang hari esok, tentang udara yang masih dapat dihirup dalam selimut debu.

Dan mimpi? Mimpi adalah perhiasan termahal yang dapat manusia kenakan…

***

Perang sipil yang berkepanjangan membelah Sudan menjadi dua bagian, sekali lagi agama yang semestinya menjadi pemersatu tak ayal menjadi pemecah. Dan hal itu membuat Sungai Nil yang agung kembali menambah nama deretan negeri yang dilintasinya; Republik Sudan Selatan. Negara termuda di dunia, rumah saya untuk setengah tahun ke depan. 

Sudan Selatan adalah bayi baru di benua Afrika, dia sama sekali buta akan pembangunan. Juba yang menjadi ibukota negara layaknya sebuah susunan lego yang dibangun dalam semalam. Tercengang saya melihat riuh dan gaya bandara internasional yang mirip pelelangan ikan, tersusun oleh bilik-bilik kayu dan ramai oleh pekik teriakan dimana-mana. Dinamis dan fluktuatifnya negara ini dapat dengan mudah terbaca. 

Sayang sekali, Juba yang berada di selatan dan berbatasan dengan Uganda hanyalah perhentian sementara bagi saya. Kehidupan saya di negara ini belum di mulai di terminal bandara. Pesawat membawa saya terbang ke titik paling atas negara ini, ke daerah perbatasan Sudan Selatan dan Utara. Saya sempat berfikir, manusia apa yang berkenan hidup di daerah perbatasan yang labil dan penuh konflik seperti itu? Dan di Doro saya menemukan jawabannya, mereka adalah para manusia yang terusir dari negerinya…

Saat pertama kali mendarat di Doro, saya tercengang memandang jejeran tenda-tenda pengungsian yang berdampingan dengan padang tandus nan gersang. Doro yang sejatinya daerah tak bertuan menjelma menjadi kota para manusia terusir. Di Doro udara panas menjadi teman paling setia, siang dan malam seakan tak ada bedanya, bahkan bulir keringat pun dapat menguap seketika.

Di tempat ini ada ribuan manusia yang menggantungkan hidupnya dari bantuan, tanpa pekerjaan, tanpa penghidupan, tanpa masa depan. Ada rasa sesak di dada saat saya melihat jejeran manusia yang kurus kering berbalut belulang memandang kosong ke arah mobil yang saya tumpangi dari pinggir jalan, bergeming  sesaat sebelum menghilang dibalik gumpalan debu yang memekat saat ban mobil bergulir menyapu jalan. 

Di Doro saya seakan lupa akan waktu, karena pekerjaan saya terbebas dari dikotomi siang dan malam. Pasien dapat datang kapan saja dan oleh karena itu kami harus senantiasa siap siaga, tak ada nyawa yang dapat menunggu kami untuk sekedar merapikan diri.

Saat malam yang tenang, saya dapat berkumpul dengan rekan-rekan saya di bawah pohon akasia kegemaran kami. Berceloteh ringan ataupun menertawakan hari yang tampaknya tak pernah memainkan peran protagonis. Dari meja tempat kami biasa menikmati makan malam bersama, saya dapat berkeliling dunia melalui pengalaman mereka. Sebotol air dingin dan gelak tawa mereka adalah cara terbaik untuk menutup hari.

***

Sudah setahun lamanya saya menggantungkan jas putih kebanggaan para dokter dan kini hanya mengenakan tak lebih dari kaos putih usang ataupun rompi yang berwarna kecoklatan akibat debu. Bangsal tempat saya bekerja pun hanyalah sebuah kontainer besi yang dikelilingi tenda-tenda plastik dengan beberapa dipan kayu di dalamnya. Di tempat ini, senyum hangat dan ucapan terima kasih adalah bayaran tertinggi yang dapat saya terima dari seorang pasien.

Apakah ini yang saya impikan? Tentu bukan. Hidup di zona konflik dan bekerja di daerah pengungsian tak pernah terpikirkan sebelumnya. Tapi seandainya saya ditanya, apa saya bahagia? Saya dengan bulat akan berkata iya!

Di tempat ini saya belajar menghargai hidup lebih baik lagi, untuk tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan. Untuk berterima kasih atas segala kebahagiaan kecil yang sering luput saya syukuri. Untuk kesempatan melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda dan bersinggungan dengan banyak manusia yang mencerahkan. Serta untuk sekali lagi mengingatkan diri, bahwa kita manusia sejatinya diciptakan untuk saling berbagi. Bukan untuk berdiam diri…

 

Dan apabila saya ditanya, sejauh apa mimpi bisa membawa saya? Saya akan menjawab; Lebih jauh dari mimpi yang pernah saya cipta…

 

Salam

March 9th, 2013
Kamu layaknya sebutir partikel neutron yang menunggu proton penyempurnamu dan aku hanyalah sebutir zarrah bernama elektron yang mengelilingimu tanpa pernah dapat menyentuhmu…
yes, it’s my saturday night..