October 4th, 2014
saat tunas mimpimu mati, tanah tempatnya tumbuh senantiasa abadi. maka tanamlah lagi dan lagi…
me; who courage my own self to restart things.
September 24th, 2014
Machar Colony – Karachi, September 20th 2014 [08:22pm]
 
Kemana saja selama ini?
Untuk sekian kali pertanyaan ini berdering menyertai ikon kecil pesan di ponsel saya.
Kemana saja selama ini?
Menjadi pertanyaan surel yang ditujukan ke email ataupun blog saya oleh beberapa orang yang senantiasa setia berkunjung. 
Kemana saja selama ini?
Menyertai segudang pertanyaan lain dari orang-orang terdekat saya, mereka yang mengikuti rentetan cerita yang tertulis pun lisan tersampaikan. Mereka yang rutin mengingatkan untuk senantiasa berkirim kabar dan mereka yang merindu dalam nada kesal dan pesan-pesan dalam huruf kapital.
 
Saya sedang tidak kemana-mana. Lebih tepatnya, saya sedang memutuskan untuk berdiam sementara. Bukan berarti saya berhenti, karena tepatnya saya masih berjalan dan bermukim ribuan mil dari tempat yang senantiasa saya sebut rumah sesungguhnya.  
Tapi saya memutuskan berdiam dari bercerita, memutuskan untuk tidak berjalan-jalan dalam rentetan kisah. Menikmati hari-hari yang biasa, menyimpan hal-hal menarik dan baik untuk diri saya sendiri. Setidaknya untuk saat ini.
 
Banyak hal yang terjadi dalam rentan waktu 90 hari, saya menikmati ruang baru dalam pekerjaan saya, bertemu dengan banyak orang yang memperkaya saya dengan pengalaman. Beberapa memberi saya masalah tidak sedikit memberi saya rasa lega dan seperti biasa saya selalu bisa tersenyum mendengar cerita lepas para pasien yang duduk di depan meja praktek ataupun tawa lepas rekan-rekan saya di teras atas rumah kami. 
 
Satu malam, saat kota ini sedang dalam kondisi siaga selepas serangan Taliban di bandara internasional Jinnah-Karachi. Tim kami di isolasi dan untuk memastikan keamanan, kami tidak diperbolehkan untuk meninggalkan rumah. Malam yang biasanya lengang menjadi panjang. Saya terlibat perbincangan dengan rekan saya Pauline. Kami mendiskusikan bagaimana dia memandang manusia begitu terikatnya dengan tehnologi.
“People loves to share and what we crave more than acknowledgement? A single notification or likes in our social media filled our hunger more than a bowl of hot rice.” Ujar saya memulai.
Tehnologi sejatinya menjadi pembunuh jarak, menghubungkan yang jauh tanpa menjauhkan yang dekat. Menjadi pencerah dan meretaskan ketidaktahuan. Membuat manusia dapat berbicara dengan lapang tanpa menjadi gagu dalam realita. 
Tapi tehnologi dan beragam sosial media tanpa disadari membuat saya merasa kehilangan. Kehilangan sentuhan sosial sesungguhnya, kehilangan rasa rindu akan jarak dan pertemuan yang sejatinya sangat berharga menjadi tidak bermakna.
Oleh karena itu saya memutuskan untuk berhenti sementara, membiarkan diri saya dipenuhi rasa rindu untuk berkisah. Juga untuk menghargai fakta bahwa hidup ini tidak sebatas layar kecil  komputer maupun ponsel yang senantiasa saya pandang hampir tiap hari.
 
Demikian juga dirimu, semoga sejenak saja dapat menghargai waktu dan realita. Memberi ruang untuk menikmati luasnya taman kota, menikmati jabat tangan erat rekan lama ataupun senyum tetangga belakang rumah dan sejenak saja berhenti berkeliling dunia melalui layar maya dan berkirim peluk cium virtual yang tak mewakili apa-apa.
 
Tenang saja, saya pasti kembali. Mungkin dalam satu, dua hari, sebulan lagi atau mungkin saat tahun berganti. 
Dan saat kita bertemu lagi, saat kita saling berbagi cerita akan hidup yang kita yang menjadi asing, kita bisa menyadari betapa berharganya sebuah perpisahan…
 
Often we don’t realize that we live in the world where we don’t actually live in…
See you when I see you!
 
 
 

 

Machar Colony – Karachi, September 20th 2014 [08:22pm]

 

Kemana saja selama ini?

Untuk sekian kali pertanyaan ini berdering menyertai ikon kecil pesan di ponsel saya.

Kemana saja selama ini?

Menjadi pertanyaan surel yang ditujukan ke email ataupun blog saya oleh beberapa orang yang senantiasa setia berkunjung.

Kemana saja selama ini?

Menyertai segudang pertanyaan lain dari orang-orang terdekat saya, mereka yang mengikuti rentetan cerita yang tertulis pun lisan tersampaikan. Mereka yang rutin mengingatkan untuk senantiasa berkirim kabar dan mereka yang merindu dalam nada kesal dan pesan-pesan dalam huruf kapital.

 

Saya sedang tidak kemana-mana. Lebih tepatnya, saya sedang memutuskan untuk berdiam sementara. Bukan berarti saya berhenti, karena tepatnya saya masih berjalan dan bermukim ribuan mil dari tempat yang senantiasa saya sebut rumah sesungguhnya. 

Tapi saya memutuskan berdiam dari bercerita, memutuskan untuk tidak berjalan-jalan dalam rentetan kisah. Menikmati hari-hari yang biasa, menyimpan hal-hal menarik dan baik untuk diri saya sendiri. Setidaknya untuk saat ini.

 

Banyak hal yang terjadi dalam rentan waktu 90 hari, saya menikmati ruang baru dalam pekerjaan saya, bertemu dengan banyak orang yang memperkaya saya dengan pengalaman. Beberapa memberi saya masalah tidak sedikit memberi saya rasa lega dan seperti biasa saya selalu bisa tersenyum mendengar cerita lepas para pasien yang duduk di depan meja praktek ataupun tawa lepas rekan-rekan saya di teras atas rumah kami.

 

Satu malam, saat kota ini sedang dalam kondisi siaga selepas serangan Taliban di bandara internasional Jinnah-Karachi. Tim kami di isolasi dan untuk memastikan keamanan, kami tidak diperbolehkan untuk meninggalkan rumah. Malam yang biasanya lengang menjadi panjang. Saya terlibat perbincangan dengan rekan saya Pauline. Kami mendiskusikan bagaimana dia memandang manusia begitu terikatnya dengan tehnologi.

“People loves to share and what we crave more than acknowledgement? A single notification or likes in our social media filled our hunger more than a bowl of hot rice.” Ujar saya memulai.

Tehnologi sejatinya menjadi pembunuh jarak, menghubungkan yang jauh tanpa menjauhkan yang dekat. Menjadi pencerah dan meretaskan ketidaktahuan. Membuat manusia dapat berbicara dengan lapang tanpa menjadi gagu dalam realita.

Tapi tehnologi dan beragam sosial media tanpa disadari membuat saya merasa kehilangan. Kehilangan sentuhan sosial sesungguhnya, kehilangan rasa rindu akan jarak dan pertemuan yang sejatinya sangat berharga menjadi tidak bermakna.

Oleh karena itu saya memutuskan untuk berhenti sementara, membiarkan diri saya dipenuhi rasa rindu untuk berkisah. Juga untuk menghargai fakta bahwa hidup ini tidak sebatas layar kecil  komputer maupun ponsel yang senantiasa saya pandang hampir tiap hari.

 

Demikian juga dirimu, semoga sejenak saja dapat menghargai waktu dan realita. Memberi ruang untuk menikmati luasnya taman kota, menikmati jabat tangan erat rekan lama ataupun senyum tetangga belakang rumah dan sejenak saja berhenti berkeliling dunia melalui layar maya dan berkirim peluk cium virtual yang tak mewakili apa-apa.

 

Tenang saja, saya pasti kembali. Mungkin dalam satu, dua hari, sebulan lagi atau mungkin saat tahun berganti.

Dan saat kita bertemu lagi, saat kita saling berbagi cerita akan hidup yang kita yang menjadi asing, kita bisa menyadari betapa berharganya sebuah perpisahan…

 

Often we don’t realize that we live in the world where we don’t actually live in…

See you when I see you!

 

 

 

 

July 1st, 2014

Sepucuk Surat Terima Kasih.

Surat ini saya tujukan kepada Saudari Tasniem Fauziah.

“Semoga saja aliran informasi dapat mengantarkan sedikit bagian dari halaman rumah maya ini tepat pada tujuannya….”

***

Saya ingin memulai dengan mengucapkan terima kasih.

Terima kasih atas surat terbuka saudari kepada Jokowi. Disini saya tak bermaksud membalas surat tersebut, surat terbuka yang dapat dipandang telanjang oleh siapa saja tapi saya percaya ditujukan kepada satu orang saja.

Saya ingin mengucap terima kasih karena surat saudari memberi saya ruang untuk berfikir kembali atas pilihan yang saya buat. Pilihan untuk berdiri pada satu sisi, pilihan untuk ikut berbagi beban bangsa ini dengan percaya pada seseorang.

Saya awam mengenai politik, pun tidak pernah dibuat terkesan akan elegi yang sering ditampilkan oleh para pelakon politik negeri kita. Tapi kali ini saya ingin membuka mata, memutuskan untuk tidak diam dalam gelap dan menyumbangkan keilmuan saya yang sedikit dan rasa bangga serta cinta kepada tanah air saya yang besar untuk satu momen yang menentukan hajat hidup saya dan saudara sebangsa saya.

Saya memutuskan untuk memilih dan saya memilih untuk percaya.

***

Surat terbuka saudari membuat saya berkontemplasi, walau saya tahu surat saudari ditujukan pada seseorang tertentu tapi beberapa bait dalam surat tersebut dapat menjadi cermin bagi saya pribadi.

Saat saudari berbicara mengenai sumpah, saya teringat perkataan almarhum ayah saya bahwa kata bukanlah benda yang dapat dipegang, tapi mampu mengikat lebih kuat dari tali kekang kuda-kuda perang. Saya percaya sumpah atas nama pencipta alam raya adalah bentuk penghormatan tertinggi manusia atas harga dirinya, karena sumpah yang terlafalkan bersama nafas dan dikunci oleh waktu mustahil ditarik kembali.

Memang benar sumpah mengikat kuat tapi bagi mereka yang mampu melihat, sumpah bukanlah pengekang. Sumpah menjadi pengarah layaknya tali bagi kuda. Meluruskan niat, melapangkan tujuan dan memberi ruang untuk mencapai hajat tertinggi yang dapat diabdikan seseorang kepada Dia yang diberi janji.

Saya mungkin tak seberani beliau yang saudari sebut dalam surat terbuka, pada satu masa di tahun 2012 saat dia menutup sumpahnya dengan melafalkan janji untuk berbakti kepada masyarakat, nusa dan bangsa. Sebab kita tak akan pernah bisa menduga kearah mana takdir akan berjalan.

Saat kesempatan memberi jalan bagi sumpahmu untuk mencapai hajat tertingginya, saat itulah dia mengekangmu untuk menjalankannya. Saat takdir mengangkat sumpahmu lebih tinggi, meminta pengabdianmu lebih besar lagi, siapa kita untuk mengingkari?

Dan bagi saya, bentuk pengikaran sejatinya adalah tetap dalam penjara pengabdian kecil kita…

***

Saya adalah satu dari 250 juta orang yang saudari sebut dalam surat saudari, tapi saya tak bermaksud mewakili satu pun dari saudara sebangsa saya. Bagi saya pribadi, saya tak memerlukan pemimpin yang mampu memimpin 250 juta orang.

Saya memerlukan pemimpin yang mengerti suka duka saya sebagai warga negara, yang tahu bahwa di bawah terik matahari saya bekerja untuk hidup, yang tahu bahwa ditiap lembah rupiah pajak yang saya bayarkan ada harap untuk keadilan dan kesejahteraan. Yang mengerti saya merindukan toleransi dan penghargaan atas perbedaan serta  keberagaman. Yang paham bagaimana berharganya kebebasan atas hak yang sama diatas tanah yang sama. 

Saya tidak membutuhkan pemimpin untuk berdiri di depan saya, memasang badannya dengan jumawa dan memegang amanat negeri ini seorang diri.

Saya butuh pemimpin yang mampu menggenggam tangan saya untuk berdiri disampingnya, merangkul mimpi dan harapan saya untuk dapat berkarya bersamanya dan bersisian memasang badan untuk kedaulatan negara.

Karena amanat negeri ini bukanlah amanatnya, amanatku, amanatmu. Ini amanat kita semua, amanat 250 juta jiwa yang bertumpah darah di tanah ini.

Sekali lagi saya memutuskan untuk memilih dan saya memilih untuk percaya…

***

Saat saudara berbicara mengenai pencitraan, sungguh saya merasa malu sendiri. Mungkin selama ini saya adalah salah satu dari mereka yang mencitrakan diri tak sepantasnya. Saya berintrospeksi, melihat kebelakang atas rekam jejak dan perbuatan yang pernah saya torehkan. Apa langkah yang saya ambil dahulu kala kini tak lagi dalam arah yang sama? Apa tindakan yang saya lakukan dimasa lalu tak lagi meninggalkan sejarah kelam bagi mereka yang sempat bersinggungan waktu?

Apakah masa lalu dapat saya sebut sebagai masa lalu dan saya dimasa kini adalah saya yang baru?

Kemudian saya mulai mengerti bahwa pencitraan sejatinya tak sesederhana perkara media, bukan sekadar perkara nama yang terpajang dalam majalah-majalah, pun bukan hanya kemampuan berbahasa dan beragam suku kata yang disematkan kepada kita.

Ini tentang saya yang mereka putuskan untuk lihat, putuskan untuk dengar dan putuskan untuk rasakan.

Ya, ini perkara memutuskan.

Seperti halnya saya, mereka memiliki pilihan untuk percaya apa yang mereka ingin percaya.

Dan kemudian saya memilih untuk percaya mereka yang berada di ujung-ujung jalan, mereka yang berada di sudut-sudut pasar, mereka yang hidup di bantaran sungai besar, di kolong-kolong jembatan dan yang menggantungkan hidupnya dari mesin-mesin bermotor tua.

Mereka yang terpinggirkan oleh ketidakadilan, mereka yang dibungkam oleh ketakukan dan masa lalu yang kelam, mereka yang memilki suara mungil yang hanya dapat di dengar saat kita berdiri bersisian dengan mereka di tanah mereka dan bukannya di istana.

Saya memilih untuk percaya ketulusan penduduk negeri ini yang diusia tuanya rela berdiri dan mengantri untuk menyumbang satu dua lembar rupiahnya yang berharga untuk satu mimpi usang yang sama dengan saya; Keadilan bagi segenap rakyat Indonesia! 

***

Saudari Tasniem, sekali lagi saya mengucapkan terima kasih.

Terima kasih telah membuka mata saya atas ketidaksempurnaan saya sebagai manusia. Terima kasih untuk membuat saya melihat bahwa betapa saya masih begitu jumawa mencari sosok yang sempurna.

Saya kini tahu saya tak bisa membandingkan sosok pemimpin yang saya impikan dengan kesempurnaan, karena itu bukanlah pembanding teradil.

Saya hanya butuh pemimpin yang melihat visi yang sama, yang dapat meyakinkan saya dengan bukti nyata dan berdiri bersama orang-orang baik yang saya yakini pemikirannya.Dan untuk semua ketidaksempurnaan yang ada, semoga Tuhan masih berkenan memberi ruang dan waktu bagi kita untuk saling melengkapi.

***

Saya memutuskan untuk memilih dan saya memilih untuk berdiri disisi dia yang dapat saya titipi mimpi!

Salam hormat dan terima kasih dari salah satu anak bangsa;

Husni

June 26th, 2014
Bukankah kita mencintai kemungkinan? Membiarkannya mekar di tiap-tiap kesempatan? Mencintai masa sekarang, tapi juga menyimpan rindu kepada masa lalu dan berharap penuh pada masa depan.
Terkadang rasa suka kita kepada rasa melebihi rasa suka kita kepada realita. Terkadang kita senang menebak kemungkinan, memikirkan tiap peluang baik yang dapat ditemui di tiap sudut persinggungan dan melapangkan perasaan untuk diisi dengan mimpi-mimpi indah yang jauh dari jangkauan. 
Dan terkadang lupa ada harga yang harus dibayar untuk tiap hal yang manusia pikirkan ataupun rasakan; Waktu.
Dan waktu memiliki satuan tertentu, yang sayangnya tak dapat diisi kembali  penuh….

Bukankah kita mencintai kemungkinan? Membiarkannya mekar di tiap-tiap kesempatan? Mencintai masa sekarang, tapi juga menyimpan rindu kepada masa lalu dan berharap penuh pada masa depan.

Terkadang rasa suka kita kepada rasa melebihi rasa suka kita kepada realita. Terkadang kita senang menebak kemungkinan, memikirkan tiap peluang baik yang dapat ditemui di tiap sudut persinggungan dan melapangkan perasaan untuk diisi dengan mimpi-mimpi indah yang jauh dari jangkauan. 

Dan terkadang lupa ada harga yang harus dibayar untuk tiap hal yang manusia pikirkan ataupun rasakan; Waktu.

Dan waktu memiliki satuan tertentu, yang sayangnya tak dapat diisi kembali  penuh….

June 24th, 2014

Satu Masa di Bulan Februari

"Serendipity; [noun] The occurrence and development of events by chance in a happy or beneficial way ~ Oxford Dictionary"

***

Dubai - Uni Emirate Arab, June 20th 2014 [02:33am]

Saya tidak akan melupakan satu subuh yang sama empat bulan yang lalu, tepatnya tanggal 12 Februari 2014. Saat itu saya tengah menunggu penerbangan saya menuju Praha. Penerbangan yang [sayangnya] tak pernah tiba tepat di tujuan.

Saya akan berbagi sedikit cerita tentang hari itu.

Dari mana saya memulainya? Hmm, mungkin dari alasan kepergian saya…

Saya berencana mengunjungi Praha untuk menziarahi sang kota tua dan seorang karib lama. Lucka namanya, perempuan Ceko yang melewatkan setengah tahun bersama saya di gersangnya Sudan Selatan. Saya yang saat itu tengah bermungkim di barat Afrika harus menempuh seperempat belahan dunia sebelum dapat tiba di ibukota Republik Ceko. Tak ada penerbangan langsung menuju Praha, saya pun harus berganti pesawat di London.

Sayangnya sebuah musibah menimpa pilot pesawat Gambia Bird yang subuh itu akan saya tumpangi dan penerbangan pun ditunda menanti pilot baru tiba. Saya yang memiliki waktu transit yang sangat tipis mulai dibuat cemas, segenggam masa yang saya miliki mulai luruh perlahan demi perlahan.

Satu lagi kekhawatiran saya saat itu, saya tidak memiliki visa untuk mengunjungi Inggris, satu-satunya pembenaran saya adalah selembar pernyataan yang tertulis di situs resmi pemerintah Kerajaan Inggris yang memperbolehkan warga negara Indonesia untuk transit kurang dari 24 jam tanpa meninggalkan ruang tunggu bandara. Adanya opsi untuk memindahkan penerbangan saya ke Praha ke jam penerbangan berikutnya sedikit memberi saya ruang lega. Pagi itu saya pun berangkat ke Inggris dengan jumawa.

Sayang rencana tinggallah rencana, penerbangan ke Praha hanya tersedia keesokan harinya, saya pun mulai panik dan gelap mata. Saya harus meninggalkan London hari ini juga atau berakhir di penjara.

"Move me to other flight, to any other destination in Europe, as soon as possible! I don’t care where just the fastest one!" Setengah memelas saya meminta tolong kepada petugas darat maskapai yang saya tumpangi sembari menjelaskan kondisi rumit yang saya hadapi. Dia pun dengan sigap mencari pilihan penerbangan lain.

"You have two option, either you can go to Bucharest in Romania or you can go to Budapest in Hungaria, that are the only two option available today. The other already fully booked."

Sejenak saya terdiam dan berfikir, keduanya sama sekali bukan pilihan yang terlintas. Lokasinya pun hampir berada di ujung timur Eropa, belum lagi teman saya telah menanti di Praha…

"OK, I’ll take the flight to Budapest…" Saya memilih kota itu, dengan harapan saya tetap bisa mengunjungi Praha keesokan harinya menggunakan kereta.

"The flight will be boarding in 45 minutes, is it ok?" Petugas darat maskapai itu menyampaikan dengan tergesa.

"OK" singkat saya membalasnya.

Dan saat itu tanpa saya sadari rencana sungguh tinggallah rencana…

Read More

May 18th, 2014

Saya percaya bahwa kalian telah begitu seringnya melekatkan Paris dan cinta. Ya, saya pun demikian.

Pernah suatu hari saat saya mengunjungi Louvre untuk pertama kalinya, saya tertegun memandangi sebuah patung indah yang menggambarkan legenda Cupid si dewa cinta dan Psyche istrinya. Suatu ketika Psyche yang menjadi pelayan Venus ditugaskan untuk mengambil sebuah termos berisi esensi kecantikan oleh sang dewi. Diwanti-wantinya sang pelayan untuk tidak membuka ataupun mengintip ke dalam termos tersebut. Psyche yang diliputi rasa penasaran, alih-alih langsung menuju Olympus untuk mempersembahkan termos tersebut malah berhenti dan membukanya. Hasratnya berujung bencana, esensi isi termos tersebut terlalu indah dan tak sanggup untuk disandangnya. Pscyhe meregang nyawa, seluruh tubuhnya tak berdaya. 

Cupid yang terbang rendah seketika terkejut melihat istrinya yang telah terbujur tak bernyawa, ruh Psyche telah melangkah menuju sungai Stynx di dunia bawah. Diliputi rasa sedih dan nelangsa, Cupid menusuk istrinya dengan anak panah cintanya dan mengembalikan ruh Psyche ke dalam raganya. Sebuah kecupan penuh gairah di daratkan cupid ke bibir istrinya, cinta mereka hidup kembali…

Saya percaya Cupid mencintai Paris seperti Parisian (sebutan bagi warga paris) mencintai kota mereka. Disini cinta terserak dimana-mana, pada hangat pelukan seorang pria yang merangkul kekasihnya di atas metro yang melintas cepat, pada senyum simpul wanita-wanita di taman kota, di genggaman pria yang menggenggam erat tangan prianya, di antara salam para rabbi Yahudi kepada imam masjid tetangganya serta di tiap bangunan tua, di relik-relik agama, di bantaran sungai Seine dan cafe-cafe yang tak henti-hentinya mengepulkan asap rokok dan cerita. 

Paris is an art! Itu bukanlah ungkapan, Paris sejatinya adalah sebuah karya seni. Kota kumuh yang menjelma menjadi salah satu permata di benua biru. Tiap bangunan yang berdiri, tiap sudut yang dipugar, tiap lekuk jalan yang mengular adalah bukti cinta kota ini kepada keindahan. Saya mengingat cerita salah satu rekan saya Robert akan kebencian masyarakat Paris di akhir abad ke 18 saat kota mereka dihiasi oleh monumen besi raksasa. Bagi mereka, monumen rangka itu layaknya setitik tinta hitam yang jatuh dan merusak lukisan indah. Mereka meminta bangunan itu dirobohkan, kembali diratakan dan dianggap tak pernah berdiri menghias kota indah ini. Ide itu tak pernah dieksekusi, dan kini lebih dari seratus tahun kemudian, menara ciptaan Gustave Eiffel itulah yang menjadi ikon utama Paris. 

Ya, cinta dan benci terkadang berbatas sekat tipis masa dan persepsi saja…

***

Hari ini Paris diguyur hujan rintik-rintik, langit mendung menggantung sedari pagi, pekerjaan saya di kota ini sebentar lagi selesai dan malam ini saya akan kembali ke Belgia. Saya melintasi Ponts De Arts untuk kesekian kalinya, tersenyum memandangi para kekasih yang menghiasi jembatan ini dengan gembok-gembok besi sebagai penanda cinta mereka lalu melemparkan kuncinya ke dalam sungai Seine. Mungkin hanya sedikit dari mereka yang tahu bahwa pemerintah kota Paris rutin mengeruk dasar sungai untuk membersihkannya dari limbah cinta ini, memotong sebagian besar gembok yang melekat pada jembatan Ponts De Arts demi melindungi jembatan dari beban berat yang dapat merobohkannya kapan saja dan tanpa mereka sadari cinta mereka yang dianggap abadi akhirnya berakhir pada tempat-tempat pengolahan sampah sebuah kota raksasa.

“Love is a big fat corporate, the essence is consumerism. I depicting Cupid as a man in a black suit, walking in La Défense with Cappucino on his hand and a big office on top of Montparnasse.” Dengan satir rekan saya Robert menggambarkan kotanya.

“Haha so you depicting Paris as a love market then?!”  Ujar saya tak bisa menahan tawa.

“No, this is the headquarter of The Love Company, where the product of love are testing. Do you feel the love H?” Timpalnya lagi. “No” Saya menggeleng. “Paris break my heart…”

Ah ya, saya patah hati! Karena di kota cinta ini, saya tak mendapatkan cinta sama sekali…

***

Le Baratin Belleville - Paris, 29th April 2014 [07:22pm] 

Saya dapat duduk lama menikmati senja yang datang terlambat sehabis bekerja di cafe dan bistro-bistro yang tersebar di Paris, salah satu tempat favorit saya adalah bistro ini. Walaupun perlu saya akui menemukan tempat ini sedikit membutuhkan usaha, belum lagi setiap saat harus berjibaku dengan sistem metro Paris -yang menurut saya adalah sistem metro paling rumit yang pernah saya temui!- Tapi semuanya setimpal dengan menu serta ambiance bistro ini, ruangannya yang berwarna teduh dengan beberapa lukisan kontemporer, sudut-sudut yang berhias meja dan kursi kayu serta pilihan makanan yang tak pernah gagal memuaskan hasrat kuliner saya.

Layaknya kali ini, saya menghabiskan waktu dengan menebak secara acak arti tatapan mata seorang perempuan di sudut kiri saya yang tengah duduk mendengar kekasihnya bercerita, perempuan itu sesekali menyelipkan jari tangannya disela telinga sembari tertawa kecil. Membuat saya penasaran apakah cinta yang menggurihkan cerita mereka ataukah cerita yang menumbuhkan cinta disana?

Saya pun dapat menjadi satu dari jutaan manusia di kota ini yang mengisolasi diri di tengah keramaian Rue du Faubourg Saint-Honoré yang melegenda, berjalan lurus ditengah kungkungan etalase-etalase megah brand ternama dunia sembari berharap suatu hari nanti dapat menengok, berhenti dan memilih satu benda yang menjadi penghias lemari di kamar saya.

Tapi sepertinya ada yang kurang, saya merasa tidak lengkap, layaknya sepatu yang kehilangan pasangannya dan akhirnya tersudut di kotak tanpa pernah dikenakan lagi. Cinta di kota ini mengingatkan saya bahwa senantiasa ada dua sisi dalam cerita dan kasih. Paris “the city of light” meredup dalam tatapan mata para imigran Afrika yang mengemis di stasiun kereta, di uluran tangan para wanita tua yang melangkah ringkih mengikuti dentaman lonceng Notredame yang berdiri gagah dan tampak jumawa. Paris yang manis pun menjadi bengis saat para pencopet memicu tangis turis-turis yang menjadi korbannya dan gadis-gadis muda mencoba menjajakan ilusi berkedok sumbangan kemanusiaan.

Saya mencintai harapan dan diluar sangkaan saya kota ini memperlihatkan saya begitu banyak kemungkinan.

***

Saya masih patah hati serta sedikit iri tentunya, maka semoga saja tidak muluk apabila saya berharap suatu hari nanti saya dapat menjadi bagian dari epos cinta kota ini dan seperti kata Gina dan Nino Quincampoix dalam film Perancis kegemaran saya “Amélie”: “Absence makes… the heart grow fonder”.

Ya, kehilangan adalah bagian awal dari menemukan dan untuk sekali lagi, kita berbicara mengenai masa dan persepsi… 

Avoir L’espoir