August 24th, 2012
Lake Nyassa, 20 August 2012 [08:00 am]
“H, are you want to go the the rock formation?! Let’s go this morning…”
…
Saya belum sepenuhnya berniat memulai hari saat karib saya Sylvant masuk dan membangunkan saya di tenda. Dia mengajak saya untuk mengeksplorasi wilayah ujung timur dari taman nasional danau Nyassa.
Walau masih setengah sadar, girang saya menerima ajakannya!
  …
Sejak kali pertama menginjakkan kaki di Cape Maclear, mata saya telah terpikat pada siluet ujung timur pesisir pantai danau Nyassa, tempat batu-batu granit raksasa berwarna hitam keabu-abuan bersemayam dalam koreografi alam.
Ingin saya kesana…
Sayang saya langsung mengurungkan niat mengingat lokasinya yang terisolasi dan termasuk dalam wilayah konservasi taman nasional danau Nyassa, membuat wilayah ini tidak memilki akses jalur darat. Menurut informasi dari nelayan lokal, butuh waktu satu jam dengan bwato atau kapal motor untuk sampai disana. Pilihan lain adalah dengan menyewa kayak dan mengayuh sampan hingga waktu yang tak tahu kapan.
Keduanya bukan pilihan menarik bagi saya…
…
“There’s no road but it doesn’t mean we can not access it right? We can walk!” Sylvant memberi wacana.
Benar juga, mungkin tak ada jalan darat yang dapat diakses kendaraan, tapi bukan berarti kami tidak bisa berjalan kaki kesana.
Maka pagi itu kami memutuskan untuk trekking menyusuri taman nasional danau Nyassa.
Tujuan kami jelas, siluet formasi batu-batu besar di ujung timur. Suku Yao menyebut tempat itu Katumbu Losa Chigawo yang diartikan Otter Point Territory.
Ya sesuai namanya, batu–batu besar itu merupakan wilayah kekuasaan berang-berang danau Nyassa!
…
“It will probably took you hours before you arrive if you don’t get lost in your way.”
Jagawana taman nasional masih belum percaya saat kami mengutarakan niat untuk berjalan kaki hingga ke ujung timur dari wilayah yang ditetapkan oleh UNESCO sebagai taman nasional air tawar pertama di dunia ini.
 “There’s no big cat, but monkey will be a big distraction for you, maybe you need to reconsider your idea” setengah percaya setengah lagi dia menganggap kami sedang bercanda.
“From here you just need to follow the path untill the outer beach and climb the hill so you can see cleary where is your point…” baik hati jagawana yang kemudian saya kenal bernama Patrick ini memberikan kami instruksi.
Maka tidak butuh waktu lama, rombongan kami yang terdiri dari lima orang telah memasuki taman nasional dengan berjalan kaki.
…
Afrika selalu membuat saya takjub, tiap langkah yang saya tempuh dan tempat yang saya datangi selalu terasa asing sekaligus menarik. Saat ini musim gugur telah tiba, ranting-ranting meranggas sepanjang jalan, rumput mengering memberi warna kuning keemasan tidak ada tanda-tanda kehidupan, kering kerontang. 
Sambil berjalan kami masih berusaha mengindera pemandangan yang tersaji…
Seketika pemandangan di hadapan kami telah berganti menjadi hamparan biru danau dan pantai berbulir pasir seukuran merica! Di kejauhan pulau-pulau batu terhampar rapi dengan perdu hijau di permukaannya. Beberapa telah saya datangi dan populasi ikan chichlid-nya yang padat dan ramah terhadap manusia selalu membuat saya ingin kembali bermain disana.
…
Jagawana itu tidak bercanda!
Memang tidak mudah untuk sampai ke Katumbu Losa Chigawo kami harus berkali-kali memutar haluan saat akhirnya jalur yang kami ikuti malah menjauh dari bukit yang kami tuju, beberapa kali kami juga memutar haluan karena menghindari gerombolan monyet. Hapuskan gambaranmu tentang hewan berekor, ramah dan cerdas. Di alam liar, mereka sama sekali bukan teman perjalanan yang kau harapkan dapat bersinggungan jalan.
Hampir dua jam kami berjalan, siang telah hampir habis saat akhirnya kami tiba di puncak bukit yang dimaksud oleh jagawana. Berada di ketinggian dan memandang hamparan karpet biru permukaan danau Nyassa yang tak berujung dengan mudah menghapus peluh dan lelah kami.
Tujuan kami semakin jelas, tak ada lagi siluet hitam yang tertutup sinar mentari. Kini kami dapat memandangnya tanpa memicingkan mata, Katumbu Losa Chigawo tepat berada di bawah kami!
…
Tak ada pantai di ujung timur ini, hanya hamparan batu yang membentuk pulau-pulau terpisah, air danau memberi gradasi hijau kebiruan menghampar kedalaman tak terukur. Akar pohon merambat di sela-sela granit dan satu dua kali kami menjumpai penguasa wilayah ini, berang-berang air tawar.
Saya tidak pernah bisa menolak rayuan air yang hangat, tapi aneh kali ini hal pertama yang saya lakukan bukanlah berenang tetapi tidur. Dengan pulas saya tertidur di atas granit raksasa hingga senja tiba dan karib saya membangunkan saat tiba waktunya untuk pulang.
…
Mungkin saya terlalu lelah atau mungkin saja semilir angin yang menelusup di sela bebatuan serta hangatnya udara membuat saya merasa nyaman dengan tidak melakukan apa-apa.
Perjalanan jauh saya menjadi sia-sia? Mungkin saja, tapi apapun itu saya tidak merasa rugi…
…
karena bukankah kenyamanan adalah salah satu hal yang kita idamkan dalam sebuah perjalanan?

Lake Nyassa, 20 August 2012 [08:00 am]

“H, are you want to go the the rock formation?! Let’s go this morning…”

Saya belum sepenuhnya berniat memulai hari saat karib saya Sylvant masuk dan membangunkan saya di tenda. Dia mengajak saya untuk mengeksplorasi wilayah ujung timur dari taman nasional danau Nyassa.

Walau masih setengah sadar, girang saya menerima ajakannya!

  …

Sejak kali pertama menginjakkan kaki di Cape Maclear, mata saya telah terpikat pada siluet ujung timur pesisir pantai danau Nyassa, tempat batu-batu granit raksasa berwarna hitam keabu-abuan bersemayam dalam koreografi alam.

Ingin saya kesana…

Sayang saya langsung mengurungkan niat mengingat lokasinya yang terisolasi dan termasuk dalam wilayah konservasi taman nasional danau Nyassa, membuat wilayah ini tidak memilki akses jalur darat. Menurut informasi dari nelayan lokal, butuh waktu satu jam dengan bwato atau kapal motor untuk sampai disana. Pilihan lain adalah dengan menyewa kayak dan mengayuh sampan hingga waktu yang tak tahu kapan.

Keduanya bukan pilihan menarik bagi saya…

“There’s no road but it doesn’t mean we can not access it right? We can walk!” Sylvant memberi wacana.

Benar juga, mungkin tak ada jalan darat yang dapat diakses kendaraan, tapi bukan berarti kami tidak bisa berjalan kaki kesana.

Maka pagi itu kami memutuskan untuk trekking menyusuri taman nasional danau Nyassa.

Tujuan kami jelas, siluet formasi batu-batu besar di ujung timur. Suku Yao menyebut tempat itu Katumbu Losa Chigawo yang diartikan Otter Point Territory.

Ya sesuai namanya, batu–batu besar itu merupakan wilayah kekuasaan berang-berang danau Nyassa!

“It will probably took you hours before you arrive if you don’t get lost in your way.”

Jagawana taman nasional masih belum percaya saat kami mengutarakan niat untuk berjalan kaki hingga ke ujung timur dari wilayah yang ditetapkan oleh UNESCO sebagai taman nasional air tawar pertama di dunia ini.

 “There’s no big cat, but monkey will be a big distraction for you, maybe you need to reconsider your idea” setengah percaya setengah lagi dia menganggap kami sedang bercanda.

“From here you just need to follow the path untill the outer beach and climb the hill so you can see cleary where is your point…” baik hati jagawana yang kemudian saya kenal bernama Patrick ini memberikan kami instruksi.

Maka tidak butuh waktu lama, rombongan kami yang terdiri dari lima orang telah memasuki taman nasional dengan berjalan kaki.

Afrika selalu membuat saya takjub, tiap langkah yang saya tempuh dan tempat yang saya datangi selalu terasa asing sekaligus menarik. Saat ini musim gugur telah tiba, ranting-ranting meranggas sepanjang jalan, rumput mengering memberi warna kuning keemasan tidak ada tanda-tanda kehidupan, kering kerontang. 

Sambil berjalan kami masih berusaha mengindera pemandangan yang tersaji…

Seketika pemandangan di hadapan kami telah berganti menjadi hamparan biru danau dan pantai berbulir pasir seukuran merica! Di kejauhan pulau-pulau batu terhampar rapi dengan perdu hijau di permukaannya. Beberapa telah saya datangi dan populasi ikan chichlid-nya yang padat dan ramah terhadap manusia selalu membuat saya ingin kembali bermain disana.

Jagawana itu tidak bercanda!

Memang tidak mudah untuk sampai ke Katumbu Losa Chigawo kami harus berkali-kali memutar haluan saat akhirnya jalur yang kami ikuti malah menjauh dari bukit yang kami tuju, beberapa kali kami juga memutar haluan karena menghindari gerombolan monyet. Hapuskan gambaranmu tentang hewan berekor, ramah dan cerdas. Di alam liar, mereka sama sekali bukan teman perjalanan yang kau harapkan dapat bersinggungan jalan.

Hampir dua jam kami berjalan, siang telah hampir habis saat akhirnya kami tiba di puncak bukit yang dimaksud oleh jagawana. Berada di ketinggian dan memandang hamparan karpet biru permukaan danau Nyassa yang tak berujung dengan mudah menghapus peluh dan lelah kami.

Tujuan kami semakin jelas, tak ada lagi siluet hitam yang tertutup sinar mentari. Kini kami dapat memandangnya tanpa memicingkan mata, Katumbu Losa Chigawo tepat berada di bawah kami!

Tak ada pantai di ujung timur ini, hanya hamparan batu yang membentuk pulau-pulau terpisah, air danau memberi gradasi hijau kebiruan menghampar kedalaman tak terukur. Akar pohon merambat di sela-sela granit dan satu dua kali kami menjumpai penguasa wilayah ini, berang-berang air tawar.

Saya tidak pernah bisa menolak rayuan air yang hangat, tapi aneh kali ini hal pertama yang saya lakukan bukanlah berenang tetapi tidur. Dengan pulas saya tertidur di atas granit raksasa hingga senja tiba dan karib saya membangunkan saat tiba waktunya untuk pulang.

Mungkin saya terlalu lelah atau mungkin saja semilir angin yang menelusup di sela bebatuan serta hangatnya udara membuat saya merasa nyaman dengan tidak melakukan apa-apa.

Perjalanan jauh saya menjadi sia-sia? Mungkin saja, tapi apapun itu saya tidak merasa rugi…

karena bukankah kenyamanan adalah salah satu hal yang kita idamkan dalam sebuah perjalanan?