July 29th, 2012
Saya senang dengan anak-anak, bagi saya bagaimanapun beratnya hari yang sedang saya hadapi gelak tawa lepas dari mereka dan lengkung senyum bayi mungil yang tertidur selalu menenangkan.  
Ada kepingan surga disana…
…
Itulah mengapa, sudut di kamar bersalin menjadi salah satu tempat favorit saya untuk melepas penat ataupun sekedar menyeruput kopi hangat di jam makan siang. Tapi bukan cuma itu, kamar bersalin adalah tempat pertemuan saya dengan jiwa-jiwa mungil penghuni baru bumi. Dengan jumlah persalinan yang mencapai seratus tiap bulannya, kamar bersalin kami ini tidak pernah sepi oleh lenguhan para ibu-ibu ataupun tangisan bayi mereka, bahkan tidak jarang  saat kamar bersalin kami penuh, beberapa ibu harus rela melahirkan di lantai, beralaskan terpal.
Jauh sebelum hari taksiran persalinan, para wanita ini telah datang dan menginap di klinik kami, jarak rumah mereka yang jauh dan tidak adanya sarana transportasi membuat mereka harus berjalan kaki dan memilih untuk menginap bahkan sebelum tanda-tanda persalinan telah muncul. Biasanya mereka datang ditemani oleh salah seorang kerabat, jarang saya menemukan suami mereka ikut menemani. Keadaan memaksa suami-suami mereka untuk tetap bekerja demi menyambung hidup calon bayi baru. Tapi wanita-wanita ini tangguh, tak jarang beberapa jam setelah melahirkan saya telah mendapati mereka memasak shima di pinggiran dapur umum klinik!
Wanita yang bersalin di klinik kami juga sangat beragam, dari usia belasan hingga mendekati menopause, hamil anak pertama ataupun anak kelima, mulai dari yang melahirkan mudah hingga yang membuat kami harus melewatkan malam dengan perasaan cemas dan was-was. Tapi pada akhirnya selalu sama, tangisan pertama dari bayi yang baru lahir layaknya energi baru bagi saya. Senantiasa menguatkan.
…
Apabila setelah melahirkan para ibu dan bayi ini sehat, dalam 48 jam kami telah memperbolehkan mereka pulang, setelah sebelumnya mereka kami ikutkan dalam sesi Breastfeeding and Maternity Care yang kami adakan selang sehari dalam seminggu. 
Beberapa hari yang lalu, saya dan Pascanalo perawat merangkap bidan di klinik kami bertugas untuk memberikan materi di sesi Jumat. Lucu rasanya mengajarkan para ibu ini cara menyusui, merawat tali pusar ataupun sesederhana pentingnya mengganti popok saat bayi mereka buang air besar. Semakin lucu menyadari bahwa baik saya maupun Pascanalo adalah pria, membuat kami sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam menyusui. Dan fakta bahwa kami berdua belum berkeluarga membuat kami, sekali lagi, tidak memiliki pengalaman dalam merawat bayi.
Tapi saya sadar, saya tidak perlu pengalaman untuk ini…
Karena intuisi seorang Ibu telah ada disana, tersimpan jauh di suatu tempat di dalam otak mereka, dan tugas kami hanya perlu menuntunnya keluar.
Saat sesi berlangsung saya senang mengamati ibu-ibu baru ini. Mengamati kasih sayang dalam timangan lembut saat bayi mereka menangis ataupun keanggunan dalam cara mereka membungkus bayi mereka. Rapat dan hangat di balik chitenje baru yang khusus mereka beli untuk menyambut si jabang bayi, tidak peduli betapa susahnya hidup dan mahalnya sehelai kain bercorak.
…
…
Pengorbanan para ibu baru ini senantiasa menyadarkan saya bahwa walaupun hidup para bayi ini tidak akan mudah, dan mungkin tidak semua dari mereka akan dapat mengecap nikmatnya dewasa. 
Tapi disana, dibalik tiap sentuhan lembut seorang ibu, harapan akan masa depan selalu ada…

Saya senang dengan anak-anak, bagi saya bagaimanapun beratnya hari yang sedang saya hadapi gelak tawa lepas dari mereka dan lengkung senyum bayi mungil yang tertidur selalu menenangkan. 

Ada kepingan surga disana…

Itulah mengapa, sudut di kamar bersalin menjadi salah satu tempat favorit saya untuk melepas penat ataupun sekedar menyeruput kopi hangat di jam makan siang. Tapi bukan cuma itu, kamar bersalin adalah tempat pertemuan saya dengan jiwa-jiwa mungil penghuni baru bumi. Dengan jumlah persalinan yang mencapai seratus tiap bulannya, kamar bersalin kami ini tidak pernah sepi oleh lenguhan para ibu-ibu ataupun tangisan bayi mereka, bahkan tidak jarang  saat kamar bersalin kami penuh, beberapa ibu harus rela melahirkan di lantai, beralaskan terpal.

Jauh sebelum hari taksiran persalinan, para wanita ini telah datang dan menginap di klinik kami, jarak rumah mereka yang jauh dan tidak adanya sarana transportasi membuat mereka harus berjalan kaki dan memilih untuk menginap bahkan sebelum tanda-tanda persalinan telah muncul. Biasanya mereka datang ditemani oleh salah seorang kerabat, jarang saya menemukan suami mereka ikut menemani. Keadaan memaksa suami-suami mereka untuk tetap bekerja demi menyambung hidup calon bayi baru. Tapi wanita-wanita ini tangguh, tak jarang beberapa jam setelah melahirkan saya telah mendapati mereka memasak shima di pinggiran dapur umum klinik!

Wanita yang bersalin di klinik kami juga sangat beragam, dari usia belasan hingga mendekati menopause, hamil anak pertama ataupun anak kelima, mulai dari yang melahirkan mudah hingga yang membuat kami harus melewatkan malam dengan perasaan cemas dan was-was. Tapi pada akhirnya selalu sama, tangisan pertama dari bayi yang baru lahir layaknya energi baru bagi saya. Senantiasa menguatkan.

Apabila setelah melahirkan para ibu dan bayi ini sehat, dalam 48 jam kami telah memperbolehkan mereka pulang, setelah sebelumnya mereka kami ikutkan dalam sesi Breastfeeding and Maternity Care yang kami adakan selang sehari dalam seminggu. 

Beberapa hari yang lalu, saya dan Pascanalo perawat merangkap bidan di klinik kami bertugas untuk memberikan materi di sesi Jumat. Lucu rasanya mengajarkan para ibu ini cara menyusui, merawat tali pusar ataupun sesederhana pentingnya mengganti popok saat bayi mereka buang air besar. Semakin lucu menyadari bahwa baik saya maupun Pascanalo adalah pria, membuat kami sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam menyusui. Dan fakta bahwa kami berdua belum berkeluarga membuat kami, sekali lagi, tidak memiliki pengalaman dalam merawat bayi.

Tapi saya sadar, saya tidak perlu pengalaman untuk ini…

Karena intuisi seorang Ibu telah ada disana, tersimpan jauh di suatu tempat di dalam otak mereka, dan tugas kami hanya perlu menuntunnya keluar.

Saat sesi berlangsung saya senang mengamati ibu-ibu baru ini. Mengamati kasih sayang dalam timangan lembut saat bayi mereka menangis ataupun keanggunan dalam cara mereka membungkus bayi mereka. Rapat dan hangat di balik chitenje baru yang khusus mereka beli untuk menyambut si jabang bayi, tidak peduli betapa susahnya hidup dan mahalnya sehelai kain bercorak.

Pengorbanan para ibu baru ini senantiasa menyadarkan saya bahwa walaupun hidup para bayi ini tidak akan mudah, dan mungkin tidak semua dari mereka akan dapat mengecap nikmatnya dewasa.

Tapi disana, dibalik tiap sentuhan lembut seorang ibu, harapan akan masa depan selalu ada…